Archive for the 'Social' Category

Menjadi Orang

Oct 20 2008 Published by stwn under Lifehacks, Social

Menjadi orang bukan saja menjadi manusia yang hidup, tetapi juga dapat membuat perubahan yang baik pada orang lain dan lingkungan.

Kita sering mendapatkan doktrin dari orang tua untuk menjadi orang, yaitu “yang bisa hidup saja sudah untung”. Kita diajarkan untuk menjadi orang-orang yang biasa saja.

Saya dan mungkin Anda suka menjadi manusia biasa, tetapi biasa tidak berarti hanya melakukan hal biasa. Apa artinya? kerja dan dedikasi terhadap tujuan dan impian mulia yang seharusnya ditanamkan dan diperjuangkan. Bukan hanya nilai-nilai yang bisa hilang dalam sesaat.

3 responses so far

Aku dan Saya

Sep 15 2008 Published by stwn under Personal, Social

Belakangan ini saya mencoba untuk bereksperimen kata, yaitu “saya” diganti dengan “aku”. Ternyata ada rasa yang berbeda pada penggunaan kata ini, saya yang terbiasa dengan kata “saya” tiba-tiba menjadi seorang “aku”.

Kata “aku” jika digunakan dihadapan orang yang sudah dikenal akan lebih enak dan kekeluargaan. Kata “saya” lebih pas digunakan pada tempat dimana banyak orang yang baru atau kondisi kita tidak tahu siapa yang kita kenal atau campur aduk antara yang sudah dan belum dekat.

Secara umum kata “aku” sendiri menurut saya lebih menonjolkan diri sendiri dan narsis daripada kata “saya”. Yah, itu pendapat saya aja lho. Kini saya kembali ke kata “saya” di blog ini sejak posting yang terakhir. Mari terus bereksperimen kata :-)

One response so far

Curhat Sabtu Minggu

Aug 31 2008 Published by stwn under Personal, Social

Tiga hari yang lalu aku diberitahu bahwa salah satu kawanku masuk rumah sakit, keluhan sakit yang sama atau paling tidak mirip ;-) Saat itu aku berada di perjalanan pulang ke kos, kira-kira pukul 20an, aku dikabari dan diminta untuk membantu menjaga kawanku malam itu karena posisinya di Intermediate Care (IC) dan tidak ada yang menunggui. Aku bilang ok, tapi aku pulang ke kos dulu.

Waktu mendengar kabar itu aku langsung bilang sakit yang sama? jawabannya ya, tapi yang ini lebih parah. Saat aku sampai rumah sakit, terdengarlah cerita tentang bagaimana kondisi kawan saya. Hari pertama masuk UGD, terus rawat inap, operasi, masuk ICU karena napas tidak stabil, kemudian masuk ke IC.

Aku cuma bisa diam dan mendengarkan dengan baik, menyesal baru tahu sekarang padahal kawan saya itu sudah masuk ke rumah sakit sejak empat hari sebelumnya. Kenapa aku tidak diberitahu? yah paling tidak aku kan kawan cukup dekatnya. Selidik punya selidik ternyata pada hari H, kawanku itu menelpon tapi tidak aku angkat dan aku sendiri tidak merasa mendapat telepon. Aku pun sudah memeriksa catatan missed call di ponsel tidak menemukan nomor teleponnya.

Aku mendapat cerita bahwa kawanku menelepon beberapa orang untuk minta bantuan agar bisa dibawa ke rumah sakit, akhirnya ada satu yang bisa tapi dibawa dengan angkot dan saat itu aku bisa bayangkan pasti susah/sakit sekali waktu dia jalan, ditambah angkot kebablasan ketika dekat dengan rumah sakit sehingga dia harus berjalan cukup jauh, apalagi lalu lintas sedang padat.

Aku yakin, aku adalah orang pertama yang bisa dia andalkan pada saat itu sebenarnya *hiks*, kenapa telponnya tidak masuk? kenapa dia tidak telpon lagi? tapi ya sudahlah semua sudah jalannya seperti itu.

Pertanyaanku yang lucu saat jam jenguk di IC dengan baju panjang steril warna hijau dan sandal yang sudah disediakan rumah sakit adalah “Bisa baca tidak?”, dia menjawab dengan lirih “Yah kalau sanggup”. Dia memang “diberi makan” lewat infus, tubuhnya ditempel dan dikelilingi selang di hidung, dada atas, perut, tangan, buang air lewat selang (belakangan bisa pakai pispot), dan dimonitor beberapa perangkat digital kesehatan yang berbunyi secara periodik.

Aku memang bertanya hal tersebut karena dengan kondisi di tempat tidur seperti itu pasti akan membosankan, hal yang mungkin adalah membaca, tapi sepertinya tidak mungkin.

Saat ini Alhamdulillah dia sudah masuk ke kamar rawat inap biasa, semoga cepat pulih dan sehat kembali. Aku tahu dia akan minta dibelikan oleh orang yang menungguinya majalah InfoLINUX dan PCMedia :D

3 responses so far

Ketika Mendapat Kritik

Aug 02 2008 Published by stwn under Lifehacks, Social

Ketika mendapat kritik, sering kita menggunakan emosi. Seharusnya kita bisa mengaturnya, selain nantinya kita bisa menjawab dengan fokus, bersih, tidak melebar kemana-mana dan emosional, kita bisa berpikir cepat dalam membuat strategi jawaban yang OK. Memang hal ini butuh latihan sering.

Ada artikel menarik di lifehack.org yaitu How To Take Criticism Like Donald Trump. Di akhir tulisan tersebut ada yang bisa digunakan ketika kita mendapat kritik. Berikut poin-poinnya dengan sedikit adaptasi dan tambahan:

  • Berterima kasih atas kritikan orang-orang.
  • Setujulah, paling tidak untuk sementara, dan tidak marah. Kita kehilangan energi banyak jika marah.
  • Ingat bahwa semakin kita marah, bisa jadi memperlihatkan orang yang mengkritisi kita terlihat benar.
  • Jangan mendebat balik, kita tidak menyakinkan apapun pada orang-orang, kita hanya sekedar menjawab pertanyaan mereka. Dalam agama saya, kita dilarang berdebat, walaupun kita benar.
  • Terakhir, terima untuk sementara kritik dari kawan-kawan dan guru dengan pikiran terbuka. Kita akan menemukan bahwa kita bisa saja salah dan tujuan mereka baik hanya saja kurang pas dalam mengungkapkannya.
  • Secara aktif terus melakukan pencarian terhadap pertanyaan dan kritikan yang belum terjawab dengan baik. Jika mungkin, temukan orang yang dulu mengkritik kita di waktu yang lain dan berikan jawaban terbaik kita.

Sila jika ada yang mau menambahi :-)

2 responses so far

Beri Aku Arti

May 08 2008 Published by stwn under Personal, Social

Oleh Padi

Menjumpai hari suasana sepi
Menikmati suasana alam tak terasa
Beragam warna terbayang sekilas
Menyingkirkan luka tanpa diminta

Pernahkah kusadar tanpa itu semua
Dalam terang surya selalu terjaga
Memahami makna arti kenyataan
Keremangan senja selipkan hampa

Dimana kawanku…
Inginku menyapa
Beri aku ruang…
Tempatkan diriku
Dimana kawanku…
Semakin menjauh
Beri aku arti…
Tak ingin berbeda

Continue Reading »

4 responses so far

« Prev - Next »