Mungkin Anda pernah mengalami kejadian, ketika bergabung dalam sebuah tim, tiap anggotanya tidak mempunyai inisiatif. Hal ini merupakan kiamat bagi sebuah pekerjaan yang melibatkan banyak orang dalam sebuah pekerjaan tim (team work), kecuali ada salah satu orang yang menjadi superman. Orang ini lah yang setiap kali menyelamatkan pekerjaan semua orang dalam tim.
Sayangnya, tidak semua tim memiliki superman-superman yang tetap ada di tim dan bisa tetap “hidup” terus sepanjang tahun, karena sering kali orang-orang ini memiliki tekanan fisik dan mental.
Manusia “super” ini menyadari bahwa tidak berguna bekerja dalam tim tersebut dengan melihat kenyataan bahwa berharap semua orang aktif serta berinisiatif untuk bekerja dan saling mengisi adalah omong kosong belaka, kecuali karena dia masih membutuhkan sesuatu untuk menafkahi diri dan keluarganya.
Bagaimana cara membuat tim yang bagus dan orang-orang di dalamnya berinisiatif/bersemangat?
Kalau kita punya kuasa, ganti anggotanya satu-satu dengan orang-orang yang punya gairah dan semangat *sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit* :D
Susah mengubah budaya kerja orang, kecuali Anda seorang yang penyabar, apalagi berhubungan dengan tukang mroyek yang suka kemana-mana tapi kurang bertanggung jawab, sudah tua tetapi tidak tahu malu, juga rajin mencari-cari alasan kenapa begini kenapa begitu.
Cara yang lunak ada tidak?
Ada, yaitu dengan mengajak orang-orang itu berinisiatif pelan-pelan, tapi sepertinya hal ini tidak berlaku bagi orang yang lebih tua dari kita, cenderung tidak terbuka, dan memposisikan dirinya lebih tinggi.
Saya bilang tidak berlaku bukan berarti tidak berlaku sama sekali, tapi kecil kemungkinannya haha.
Saya ingat, dulu saat kuliah pikiran saya sering blank waktu dosen menerangkan sesuatu yang teknis sekali dan kompleks.
Saya baru mengerti kenapa bisa blank? karena saya mencoba menerjemahkan apa yang sedang dibahas dalam pikiran dengan cara saya sendiri, berbekal ilmu dan pengalaman sebelumnya.
Kadang-kadang bahkan mungkin sering(?) saya tidak ketemu solusinya.
Jadi, ketika dosen saya berbicara menerangkan A, saya mencari sendiri A dan bagaimana A harus begini begitu. Tapi karena keterbatasan ilmu dan pengalaman, sering didapati saya mentok mengkombinasikan puzzle itu dalam pikiran saya.
Hasilnya, saya tidak mendengar dosen menerangkan, saya juga tidak menemukan solusi dari yang dibahas. Blank! Ujung-ujungnya saya ditegur :D
Baru-baru ini saya membaca sebuah tulisan resensi pak Gatot tentang sebuah buku berjudul “Your Road Map for Success“.
Sebagai manusia yang menyukai “daftar” sebagai bentuk kemudahan daripada membaca tulisan, seperti yang diungkap oleh Paul Graham dalam The List of N things:
Why do readers like the list of n things so much? Mainly because it’s easier to read than a regular article.
Berikut poin-poin yang ditulis oleh pak Gatot pada resensinya:
- Pilihlah kehidupan yang memberi kesempatan kita untuk tumbuh dan berkembang
- Mulailah tumbuh berkembang hari ini
- Miliki kemauan selalu belajar (be teachable)
- Fokus pada pengembangan diri (self development) bukan pemenuhan diri (self fulfillment)
- Jangan pernah puas dengan pencapaian saat ini
- Menjadilah pribadi yang selalu berkeinginan belajar terus-menerus
- Konsentrasi kepada hal-hal pokok saja
- Membuat rencana pengembangan dan pertumbuhan
- Berkorban demi tercapainya menjalani impian
- Mencari cara mengaplikasikan apa yang telah dipelajari
Nomor 1 dan 4 bagus untuk checklist ketika memilih jalan hidup, kemudian poin 7 menjadi cara melawan information overload, dst. :D
Tentu saja daftar poin-poin ini hanya menjadi pelengkap “checklist” yang lebih utama ;-)
Kebetulan sore ini (04/06) saya membaca sebuah tulisan berjudul “Solusi 7 Persen” atau “The 7 Percent Solution” yang ada di buku “Surely You’re Joking, Mr. Feynman“.
Saya memang sedang asik membaca buku, terutama yang sudah pernah dan sering saya baca, dengan cara terbalik. Saya baca dari bagian belakang baru ke depan :D Menarik lho, jadi serasa membaca “buku baru” dan kita jadi tidak bosan.
Kalo sudah bosan dengan cara ini, balik lagi ke cara awal, baca dari depan baru ke belakang. Wah wah bisa jadi metode membaca stwn nih hehe.
Ok, saya memang sedang agak jenuh dan ada beberapa kasus yang sukar saya pahami dan terlihat rumit. Ketika membaca tulisan “Solusi 7 Persen” saya menemukan paragraf yang menarik:
Selama konferensi aku tinggal dengan saudara perempuanku di Syracuse. Aku membawa paper ke rumah dan berbicara ke saudaraku itu, “Aku tidak dapat memahami hal-hal yang Lee dan Yang ungkapkan (dalam paper), semuanya kompleks sekali.”
Dia berkata “Tidak,”, “bukan kamu tidak memahaminya, tetapi kamu tidak menemukannya. Kamu tidak mencari tahu dengan caramu sendiri, (yang kamu lakukan hanya) mendengarkan petunjuk di sana sini. Apa yang perlu dilakukan adalah bayangkan dirimu seorang mahasiswa kembali, bawa paper ini ke atas, baca setiap barisnya, periksa persamaannya. Dan dirimu akan memahaminya dengan mudah.”
Aku ikuti sarannya, memeriksa semua, dan kutemukan hal-hal tersebut sangat jelas dan sederhana. Aku telah takut untuk membacanya, kupikir hal itu terlalu susah.
Ya, kita sering merasa tidak paham akan sesuatu, sepertinya hal-hal yang ada di depan kita terasa sukar dan kompleks. Ternyata ketidakpahaman kita itu adalah karena kita selalu takut melakukannya karena bayangan-bayangan di kepala.
Baik, untuk memahami sesuatu mari kita praktekkan cara yang direkomendasikan saudara perempuan Feynman yaitu berani merunut dan memeriksa setiap “baris” masalah. Langkah pertamanya tentu saja adalah lakukan!
Beberapa minggu yang lalu saya membaca artikel Joel berjudul Thanks or No Thanks. Artikel yang menarik, salah satu kutipannya adalah sebagai berikut:
Psychologists talk about two kinds of motivation: intrinsic and extrinsic. Intrinsic motivation is what drives you to do something regardless of whether you will receive a reward. Why do you spend an hour cleaning the inside of your stove? Nobody looks in there. Your intrinsic motivation compels you to do a thorough job. We all have it — in fact, most people start out with the desire to excel at whatever they do. Extrinsic motivation is the drive to do something precisely because you expect to receive compensation, and it’s the weaker of the two.
Saya adalah tipe orang relatif seperti yang digambarkan pada tulisan tercetak tebal pada kutipan di atas. Bagi banyak orang ngurusin ‘daleman’ dan detil terlalu serius itu kurang kerjaan. Ya, memang saya kurang kerjaan, sampai kerepotan sendiri karena merasa banyak kerjaan :D