Ortu dan Keseimbangan
Kalau kita lihat dan perhatikan semua hal di dunia ini berpasangan, adil, seimbang. Seperti timbangan yang tidak dimodifikasi supaya membuat untung penjual di pasar, tidak pula seperti kapasitas timbang di beberapa daerah untuk truk-truk pengangkut barang dan juga kapal-kapal penyeberang yang beberapa di antaranya membuat kecelakaan bagi pemilik, kru, dan penumpang.
Saya ingat kata-kata orang-orang tua saat kita berbicara pada mereka dan mereka kurang begitu mendengar jelas apa yang kita bicarakan sehingga kita harus mengulang beberapa kali, kata-kata mereka kurang lebih seperti ini “Nak, telinga simbok sudah buat kamu jadi ya maklum kurang bisa mendengar jelas.”
Kata “telinga” bisa kita asumsikan segala sesuatu yang berhubungan dengan apa yang dimiliki oleh orang tua dan diturunkan kepada anaknya. Dulu kita sering diberi oleh orang tua, apa saja, sejak kecil sampai sekarang. Kita anggap orang tua berlebih dan kita kurang, ada aliran dari orang tua ke anak.
Semakin kita besar dan dewasa semua berubah dan “berpindah” dari orang tua ke anak-anaknya baik kemampuan fisik, ilmu, rejeki, apapun.
Segalanya jelas dari Allah, datang kepada kita melalui orang tua. Akhirnya kita, anak-anak yang sudah besar ini, bisa mengembalikan kembali siklus keseimbangan, dengan cara yang sama ketika dulu kita mendapat “aliran” dari orang tua.

