Archive for the 'Life' Category

Pola dan Alat Kerja

Feb 23 2010 Published by stwn under Life, Personal

Apa yang saya lakukan beberapa tahun ini cukup berulang, sebut saja pola mengerjakan proyek hobi ataupun pekerjaan. Baru-baru ini saya menyadari bahwa pola ini bagus paling tidak untuk saya pribadi.

Setelah menyalakan komputer yang perlu dijalankan adalah:

  1. perangkat pengembangan seperti konsole/yakuake dan alat-alat lainnya
  2. peramban jejaring yang menampilkan wiki
  3. peramban berkas/dokumen
  4. pencatat: KNotes
  5. aplikasi perkantoran, jika diperlukan

Yang perlu saya lakukan adalah:

  • mengoprek (1) dan menulis TODO hari itu di KNotes (4)
  • menulis dokumentasi dengan membuat halaman baru atau menyunting halaman tertentu di wiki (2)
  • membaca dokumen lewat peramban berkas atau jejaring, jika diperlukan (2, 3)
  • menulis di aplikasi perkantoran, jika ada kebutuhan keluaran berupa dokumen formal (5)
  • “mencentang” TODO yang sudah dikerjakan di KNotes (4)

Tambahan, saya punya papan tulis kecil berwarna putih pemberian Wisnu yang selalu saya gunakan untuk:

  1. menulis dan menelusuri jadwal keseharian dari hari Senin sampai Ahad/minggu,
  2. daftar TODO biar terlihat mata ;-)
  3. Orek-orekan aka coret-moret semua yang ada di pikiran untuk menjembatani antara konsep dan visualisasi instan...ciee. Serius, membantu sekali.

3 responses so far

Siklus Hidup

Feb 04 2010 Published by stwn under Life, Psycho

Siklus hidup stwn beberapa minggu ini cukup bagus, alhamdulillah, meskipun perlu perbaikan minor yang selalu ada.

Seperti waktu-waktu sebelumnya, siklus hidup saya berubah sesuai dengan kondisi dan pengalaman. Pernah sehari-hari dipenuhi dengan aktivitas tak berguna, santai-santai nggak karuan, sekali-sekali juga pernah lurus *subyektif* :D

Saya pernah berkomentar seperti ini:

“Lakukan maksimal 2 aktivitas utama saja dalam hidupmu, karena kita secara default bukan multitasker yang baik”

Kutipan tersebut muncul beberapa saat setelah saya baca sebuah artikel review buku, Covey kalau tidak salah.

Setelah berkomentar demikian, saya jadi terus berpikir dan mencari tahu pasti. Bereksperimen secara implisit dengan kasus-kasus waktu vs aktivitas.

Saya memang tukang banyak kerjaan, suka pingin ngerjain ini itu. Semakin tua *nyadar* waktu saya tiba-tiba menjadi berkurang, tepatnya terbatas. Entah itu dibatasi dengan masalah hidup yang semakin kompleks atau karena sudah tidak punya waktu berleha-leha.

Saya kira mungkin dulu saya tidak peduli sekali dengan waktu, pokoknya ngerjain segala sesuatu walaupun itu menghabiskan waktu berabad-abad. Hiperbola.

Sekarang semakin tua, saya jadi semakin sadar bahwa ada porsi-porsi waktu yang harus dibagi-bagi. Ini untuk mencari nafkah, itu untuk hobi, ini untuk istirahat, itu untuk silaturahmi, dst.

Kembali ke siklus hidup sekarang, beberapa bulan ini saya membuat keputusan tidak resmi bahwa saya akan berusaha melakukan hal-hal yang sedikit saja, seperti paragraf sebelumnya, maksimal dua aktivitas utama. Satu mencari nafkah, dua proyek hobi. Ditambah prioritas!

Waktu pagi saya luangkan untuk mode ReadWrite (RW) yaitu melakukan aktivitas proyek hobi seperti ngoprek Kuliax dan menulis dokumentasinya.

Siangnya saya gunakan untuk bekerja mencari nafkah, kebetulan saat ini sedang ada pekerjaan menulis, sekaligus latihan.

Sore atau malamnya saya lanjutkan dengan aktivitas mode ReadOnly (RO) seperti membaca tulisan lewat pemasok/feed atau “peninggalan sejarah” di laterloop. Intinya aktivitas yang tidak menyedot banyak tenaga dan pikiran, selain karena biasanya saya sudah ngantuk, badan juga sudah lemah karena aktivitas seharian.

Aktivitas-aktivitas tersebut tidak melulu harus seperti itu sih, perlu ada prioritas yang harus diurutkan setiap hari. Bisa waktu pagi diisi pekerjaan karena dekatnya tenggat waktu, atau saat sore atau malam saya gunakan untuk sedikit mode RW dengan menulis hal-hal ringan seperti ini di blog.

Aktivitas tidak utama atau yang bersifat musiman dapat dilakukan sekali waktu.

Selain itu saya sering mencatat apa yang memang perlu dicatat juga dibagi ke orang lain di akun twitter dan plurk saya hehe. Ini saya anggap sebagai proses dokumentasi mikro yang baik.

One response so far

Pembenaran

Jan 16 2010 Published by stwn under Edu, Life, Psycho

Definisi justifikasi atau pembenaran yang saya tahu adalah mencari sesuatu yang membenarkan apa yang telah dan sudah menjadi buah pikiran, pekerjaan, aktivitas, dan lain-lain, walaupun sebenarnya yang dibenarkan itu salah. Alih-alih mencari informasi dan menggali ilmu tentang apa yang menjadi permasalahan/perdebatan, mereka malah mencari sesuatu atau orang/tokoh yang membenarkan masalah tersebut.

Saya tidak tahu, apakah ini sifat orang Indonesia, atau secara umum orang di dunia seperti itu.

Pembenaran saya anggap sebagai tameng, perisai yang semu. Khayal. Pelindung yang sebenarnya tidak melindungi. Pelindung yang melindungi kebohongan, ketakutan, atau apapun yang membuat orang itu sadar bahwa apa yang mereka lakukan salah.

Contoh kasus: orang kebanyakkan misal makan tahu. Suatu saat ada seseorang yang mengetahui bahwa tahu itu tidak boleh dimakan karena dilarang agama dan juga mengandung zat ini itu yang berbahaya.

Apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang mendapatkan informasi dari seseorang tersebut? periksa informasi atau kabar itu, pelajari secara obyektif dan dengan pikiran terbuka.

Kenyataannya orang-orang malah mencari suatu teori atau seseorang yang dianggap tokoh, biasanya populer*, untuk membenarkan aktivitas makan tahu.

Mereka mencari pembenaran, bukan kebenaran.

* Yang populer belum tentu bener, apalagi di zaman sekarang

2 responses so far

Inisiatif dan Tim

Jan 15 2010 Published by stwn under Edu, Life, Psycho

Mungkin Anda pernah mengalami kejadian, ketika bergabung dalam sebuah tim, tiap anggotanya tidak mempunyai inisiatif. Hal ini merupakan kiamat bagi sebuah pekerjaan yang melibatkan banyak orang dalam sebuah pekerjaan tim (team work), kecuali ada salah satu orang yang menjadi superman. Orang ini lah yang setiap kali menyelamatkan pekerjaan semua orang dalam tim.

Sayangnya, tidak semua tim memiliki superman-superman yang tetap ada di tim dan bisa tetap “hidup” terus sepanjang tahun, karena sering kali orang-orang ini memiliki tekanan fisik dan mental.

Manusia “super” ini menyadari bahwa tidak berguna bekerja dalam tim tersebut dengan melihat kenyataan bahwa berharap semua orang aktif serta berinisiatif untuk bekerja dan saling mengisi adalah omong kosong belaka, kecuali karena dia masih membutuhkan sesuatu untuk menafkahi diri dan keluarganya.

Bagaimana cara membuat tim yang bagus dan orang-orang di dalamnya berinisiatif/bersemangat?

Kalau kita punya kuasa, ganti anggotanya satu-satu dengan orang-orang yang punya gairah dan semangat *sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit* :D

Susah mengubah budaya kerja orang, kecuali Anda seorang yang penyabar, apalagi berhubungan dengan tukang mroyek yang suka kemana-mana tapi kurang bertanggung jawab, sudah tua tetapi tidak tahu malu, juga rajin mencari-cari alasan kenapa begini kenapa begitu.

Cara yang lunak ada tidak?

Ada, yaitu dengan mengajak orang-orang itu berinisiatif pelan-pelan, tapi sepertinya hal ini tidak berlaku bagi orang yang lebih tua dari kita, cenderung tidak terbuka, dan memposisikan dirinya lebih tinggi.

Saya bilang tidak berlaku bukan berarti tidak berlaku sama sekali, tapi kecil kemungkinannya haha.

No responses yet

Mengenal Orang

Jan 04 2010 Published by stwn under Edu, Life, Presentation

Seperti yang sudah saya tulis dalam posting ini, kita sebagai pengajar atau seseorang yang sedang berinteraksi dengan orang-orang, perlu memberikan perhatian pada hal-hal yang mereka anggap penting, dan membuatnya sejalan dengan apa yang kita ajarkan/bicarakan/tuju.

Dengan kata lain, kita harus mengenal orang tersebut, tak kenal maka tak sayang? tidak harus kenal seperti mau mencari calon istri/suami sih :P tapi minimal kita tahu karakteristik dan apa yang menjadi harapan mereka. Pengetahuan psikologi sepertinya penting dalam hal ini.

Ketika kita mengenal orang, kita mengerti bahwa mereka mendambakan sesuatu yang ingin mereka raih. Dengan membantunya dengan respon atau apapun yang ingin kita lakukan, membuat mereka paham bahwa kita dan mereka mempunyai tujuan bersama, atau minimal mereka tahu bahwa kita membantu mewujudkan harapan-harapan mereka.

Mungkin ada yang akan berkomentar “itu butuh waktu cukup”, nah di situ seninya, bagaimana caranya dengan cepat kita dapat mengenali karakteristik dan harapan orang dalam sekali ketemu atau beberapa kali pertemuan sesuai dengan waktu kita bersama mereka.

Perlu banyak belajar dan latihan.

One response so far

« Prev - Next »