Tidak Punya Kebanggaan
Dua hari kemarin saya melakukan “kunjungan singkat” ke sebuah universitas. Bertemu dan ngobrol dengan empat orang dari institusi tersebut. Ada pertanyaan salah satu dari mereka yang membuat saya merasa tergelitik:
Apa sih yang paling Anda banggakan?
Terus terang saya sendiri tidak tahu apa yang saya banggakan, tapi untuk menjawab pertanyaan tersebut saya mengira-ira jawaban:
Secara akademik saya tidak punya sesuatu yang dibanggakan. *Mungkin* yang bisa saya banggakan adalah kontribusi dan aktivitas blablabla.
Jawaban *mungkin* itu memang benar-benar mungkin, karena saya tidak tahu apakah kontribusi, aktivitas, dan pencapaian itu sesuatu dari saya yang bisa diterima atau tidak oleh seseorang, sekelompok orang, atau komunitas secara umum.
Bagi saya, dalam hal ini, tidak ada kata “paling” tapi “bisa”, dan bisa ini masih mungkin juga, karena mengatakan bangga dengan sesuatu yang nilainya pada diri sendiri itu subjektif sekali.
Ok. Soal kalimat tentang akademik pada jawaban saya di atas memang kenyataan.
Saya memang tidak berharap banyak pada “nilai-nilai” saya secara akademis. Tapi saya *mungkin* lebih berharga dari “nilai-nilai” tersebut, paling tidak menurut saya sendiri. Subjektif juga kan? Lho?!
Pada saat itu hal-hal ini memang tidak saya sampaikan untuk menerangkan pernyataan jawaban saya soal kebanggaan.
Saya lebih memilih menjawab singkat, diam, dan membiarkan mereka berpikir eksperimen kata saya, dan saya juga tidak tahu apa mereka akan menerjemahkan secara literal dari maksud jawaban tersebut, seperti pernyataan saya soal “saya ingin punya rumah yang bisa saya tinggali” ;-)
[...] pagi saya melakukan presentasi, lanjutan dari ngobrol-ngobrol sebelumnya. Terus terang saya agak kecewa dengan performansi saya, kondisi sedang tidak fit, kurang tidur, dan [...]