Kehabisan Tenaga
Kutipan kecil dari buku Cerdas Jenaka Cara Nobelis Fisika atau Surely You’re Joking, Mr. Fenyman!
Begitulah, aku mulai mengajarkan kuliah metode matematika dalam fisika, dan kalau tak salah aku juga mengajarkan sebuah mata pelajaran lain –kalau tak salah listrik dan magnetisme. Aku juga berniat melakukan riset. Sebelum perang, waktu sedang kuliah, aku punya banyak ide: aku menemukan metode baru untuk menyelesaikan soal mekanika kuantum dengan menggunakan integral lintasan, dan banyak lagi yang ingin kukerjakan.
Di Cornell, untuk menyiapkan bahan kuliahku, aku biasanya ke perpustakaan dan membaca Arabian Nights sambil mengeceng gadis-gadis yang lewat. Tapi waktu saatnya membuat riset tiba, aku tidak bisa mengerahkan diriku. Aku agak capek dan tidak tertarik, aku tidak berdaya melakukan riset! Ini berlangsung dalam waktu yang bagiku terasa bertahun. Kalau diingat lagi dan dihitung, memang tidak mungkin segitu lama. Mungkin sekarang aku tidak menganggapnya lama, tapi waktu itu rasanya lama sekali. Aku tidak bisa mulai mengerjakan soal apa pun: Aku ingat menulis satu dua kalimat tentang sinar gamma dan tidak bisa meneruskannya. Waktu itu aku yakin bahwa perang dan kematian istriku membuatku kehabisan tenaga.
Sekarang aku paham. Mula-mula, sebagai orang muda, aku tidak sepenuhnya menyadari berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan kuliah yang baik, khususnya untuk pertama kali –memberi kuliah, membuat ujian, dan memeriksa. Kuliahku bagus, aku mencurahkan banyak pikiran untuk setiap kuliah semacam ini. Tapi aku tidak sadar bahwa itu memerlukan banyak kerja! Jadi, aku ini “kehabisan tenaga”, membaca Arabian Nights dan merasa sangat tertekan.
Kok mirip2 posting sebelumnya ya Mas?
Apakah intinya stwn sedang kehabisan tenaga dan merasa kelelahan dengan segala risetnya?