Update: mungkin ada yang berpikir penjual jam tangan yang saya tulis adalah seperti seles? bukan bukan itu. Yang saya maksudkan penjual-penjual ini adalah orang-orang yang menawarkan satu (1) jam tangan yang dipakai mereka sendiri. Model seperti ini umumnya cenderung ke bentuk memperdayai atau menipu.

Tadi malam saya iseng-iseng ke supermarket di mal daerah Sukajadi, rencananya memang beli beberapa barang seperti susu, tisu, kopi, dll. Seperti biasa saya mulai berjalan dari sisi timur dulu sambil melihat-lihat apa ada barang yang saya butuhkan tapi tidak tercatat.

Sampailah saya di lorong/daerah barang pecah belah, lihat-lihat mug untuk ngopi karena saya cuma punya 2 gelas saja, satu untuk air putih satunya lagi untuk ngopi jadi kalau satu kotor belum dicuci tidak bisa ngopi :D Di situlah saya didatangi oleh seseorang, dia datang dengan senyuman, badannya besar tapi tidak tinggi, minimal tidak melebihi saya. Bajunya kalau tidak salah kuning dengan sweater. Bapak itu berkata “Mas, saya ada perlu nih. Saya mau jual jam tangan ini.” Saya cuma menggelengkan kepala dan tidak melihat jam tangan yang diperlihatkannya. Ketika tahu saya tidak tertarik, dia segera pergi dan “berterima kasih”.

Ketika orang itu berjalan pergi, saya perhatikan dan dalam hati berpikir ngapain juga orang jual jam tangan di sini. Ini kan mal lengkap, dari barang rumah tangga sampai elektronik ada. Curiga. Saya perhatikan gerak-geriknya, tampilannya, dst. Saya catat dalam pikiran. Kemudian saya jalan lagi, bertemu dengan orang lain yang bergaya sama dan saya ditawari jam tangan lagi! Hmmm semakin jelas, kali ini saya sedikit melirik jam tangannya tapi tetap menggelengkan kepala. Tidak lupa saya perhatikan tampilan orang yang menawarkan tersebut. Catat.

Data-data, kesimpulan, hipotesis, dst yang saya dapatkan adalah:

  • Terdapat penjual jam tangan “tidak resmi” yang terorganisir di mal tersebut.
  • Mereka bergaya seperti orang kaya, memakai sweater, sepatu, dan hal-hal yang mencoba membuat percaya “calon pembeli” seperti contohnya mereka ingin memperlihatkan bahwa mereka membawa mobil dengan memegang “kunci mobil” dengan gantungan seperti dompet*, ketika datang dan menawarkan mereka tetap memegang “kunci mobil” itu. Orang normal pun pasti akan menyimpan kunci di saku atau di tas. Ini adalah cara untuk membuat “calon pembeli” percaya bahwa dia adalah orang yang dapat dipercaya, kaya, dan jamnya pasti mahal. Jika “calon pembeli” tertarik dan percaya, maka dia mau membeli dan akan menawar dengan harga tinggi.
  • Jika diperhatikan dengan jelas mereka tidak pantas dianggap orang kaya, karena memang tampilannya dibuat-buat.
  • Terus terang jam tangan yang ditawarkan tidak bagus hehe tapi bagaimanapun kalau orang sudah percaya dan “terbawa” mau gimana lagi? apalagi sekarang kan tanggal muda bisa-bisa orang nggak jadi beli kebutuhan tapi beli jam tangan biasa.
  • Saya pernah dengar bahwa ada orang-orang yang menjual barang bisa jam tangan atau yang lain dengan model hipnotis, tidak di mal tapi biasanya di pinggir jalan, terminal, atau yang lainnya. Saya lihat cara orang-orang yang menawarkan jam tangan kepada saya punya gaya yang sama, minimal mirip.

Tips menghindari terjerumusnya kita ke model “trik” seperti ini:

  • Berdoa sebelum melakukan apapun, bepergian, membeli, dst.
  • Jangan tergiur barang-barang yang tidak jelas apalagi dari orang tidak dikenal dan tidak diketahui sumbernya.
  • Berhati-hati dengan orang-orang yang baik tapi menyimpan “imbal balik”. Kita perlu melatih pengalaman interaksi dan psikologi.
  • Jangan terpesona oleh tampilan bagus, orang kaya, barang keren, dst.
  • Selalu menggunakan akal dan logika ketika menghadapi situasi seperti ini.
  • Sebisa mungkin jangan melihat barang yang ditawarkan secara fokus, ini sebenarnya trik untuk memfokuskan pikiran “calon pembeli” ke barang. Perasaan saya ada “sesuatu” dengan jam tangan tersebut entah itu untuk membuat fokus agar mudah membawa pikiran “calon pembeli”, ada isinya atau yang lain. Saya merasakannya terutama ketika bertemu dengan orang kedua.
  • Jangan mau disentuh atau ditepuk oleh orang-orang tersebut.
  • Ketika bertemu pertama kali, sebisa mungkin jangan melihat matanya.
  • Dan yang terakhir ajaklah kawan atau saudara ketika berjalan-jalan, apalagi jika mental kita sedang jatuh, patah hati, melamun, berangan-angan kosong, dst :-)
  • Jika terpaksa sendiri, hati-hati saja ketika berada di lorong/daerah sepi dan didatangi orang yang tidak jelas.

Alhamdulillah saya bersyukur baik-baik saja sampai saya menulis posting ini. Sebenarnya saya punya beberapa cerita seperti ini yang saya alami sendiri. Semoga bisa menuliskannya lagi di lain waktu. Insya Alloh.

* Kawan-kawan tahulah seperti apa biasanya tampilan kunci mobil itu ;-)