Dua hari yang lalu kebetulan saya dan seorang kawan berbincang di lantai 4 gedung pau sambil nunggu ngobrol-ngobrol dengan “sing mbaurekso” ICT research center.

Perbincangan dimulai oleh kawan saya dengan pertanyaan sejarah mengapa saya lulus lama :D Memang tidak dipungkiri dua kali kuliah di Semarang dan Jogja saya molor dari jadual yang seharusnya, tapi tidak mengecewakan juga sebenarnya saya sering dimintai tolong untuk membantu TA/Skripsi kawan-kawan saya. Punya sendiri malah terbengkalai hihi, saya dimarahi Ibu. Alasan.

Saya bilang ke kawan saya itu dengan alasan-alasan yang kayaknya cukup meyakinkan seperti nyambi kerja full-time, ngurus organisasi dengan serius dan pengabdian, dan lain-lain pokoknya ada saja yang dikerjakan, tidak nganggur. Piss.

Lalu kawan saya cerita mengenai sejarahnya dulu ikut Balairung, sebuah media jurnalisme kampus, di UGM dan juga ketertarikannya dalam dunia jurnalisme yang katanya melenceng dari bidang keteknikan yang seharusnya dia tekuni. Saya pun cerita sedikit tentang ikutnya saya di Bulaksumur Post, hampir sama dengan Balairung, tetanggaan. Saya hanya beberapa bulan saja di sana dan belum memberikan kontribusi yang signifikan atau boleh dibilang hampir tidak ada?

Kemudian kawan saya itu mengungkapkan bahwa keseriusannya di bidang Engineering dan yang berhubungan baru pada saat membuat skripsi sampai sekarang, sebelumnya dia habiskan untuk jurnalisme. Kawan saya bercerita juga tentang ketertarikannya itu sampai ada keinginan membuat buku otobiografi seseorang tetapi sayang sungguh sayang orangnya keburu meninggal. Menurutnya sempat 6 bulan berjalan dan berhenti sampai sekarang. Mau mulai kapan lagi?

Lontaran pertanyaan “saya mau jadi apa?” dan “arah mana yang harus ditempuh?” muncul di tengah pembicaraan kita. Saya memunculkan pertanyaan-pertanyaan “Adakah role model atau figur yang kita kagumi? satu atau beberapa orang?”, jika ada “Apakah kita akan menjadi seperti dia atau mereka?”, “Apakah kita akan menjadi kombinasi dari mereka atau beberapa dari mereka?”, “Apakah kita mempunyai kemiripan sifat, cara bicara, cara memandang, … dari orang yang kita kagumi?”, dst.

Tidak tahu kenapa saya mengungkapkan pertanyaan “Mau jadi apa?” itu dengan sosok yang sudah established dan exist yaitu figur yang kita kagumi, bisa Bapak, Ibu, Ilmuwan, Profesional, atau yang lainnya. Karena mungkin sudah “jadi orang” itulah kita bisa bercermin pada diri kita “apakah kita akan menjadi seperti mereka?” atau “kita akan menjadi yang terbaik setelah mereka?”, yang berarti berusaha menutupi segala kekurangan yang ada pada mereka di diri kita.

Ya begitulah, pertanyaan “mau jadi apa?” saya terjemahkan menjadi “kamu mau jadi siapa?” dengan melihat figur yang kita kagumi plus kombinasi, perbaikan atau modifikasi dari figur tersebut pada diri kita. Tentang arah mana yang harus kita tempuh tentu saja berhubungan dengan figur kita tadi, apakah kita ingin searah dengan mereka atau kita ingin berbeda? atau agak berbeda?

Selamat bertanya pada diri sendiri dan semoga orang-orang yang kita kagumi adalah mereka yang baik-baik ya hehe. Nggak mungkin kan kita mau jadi orang gila :P