Tadi malam saya bertemu dengan sahabat lama saya sejak SMU: Tunggul Arif Siswoyo, seorang CTO di sebuah perusahaan IT di Semarang (sepengetahuan saya, saya segan untuk menanyakannya lebih lanjut :-)). Dulu Tunggul adalah teman satu band saya, seorang pemain keyboard. Saya sendiri dulu adalah seorang gitaris tetapi setelah beberapa tahun kuliah pindah haluan menjadi keyboardist, pemain papan ketik komputer.

Ketika pulang ke Semarang, saya sering menyempatkan bertemu dengan Tunggul untuk sekedar menanyakan kabar, diskusi mengenai hal-hal yang lagi ‘in’ di kalangan geek, atau hanya ngobrol ngalor-ngidul. Banyak kenangan yang sering kita ingat, terutama masa lalu dari belajar bersama Unix/Linux. Ya, kita dulu adalah “dua sejoli” yang kemana-mana “selalu bersama”, tidak hanya soal komputer atau Linux kita juga kursus Bahasa Inggris dalam kelas yang sama, menyukai cewek yang sama :D, dan lainnya yang membuat dunia ini begitu dinamis. Kalau boleh dibilang dalam hal-hal tertentu kita punya selera yang sama hehe.

Cerita Linux masa lalu dimulai ketika saya baru benar-benar mengenal komputer pada Mei 2000, tepatnya setelah hampir setahun saya kuliah di Diploma Teknik Elektro Undip, yang “ndeso” menurut salah satu sahabat saya dari luar Semarang. Ini ditambah dengan ketidakprofesionalan staf administrasi dalam mengurus translasi ke Bahasa Inggris+legalisir untuk ijazah saya baru-baru ini serta kondisi kampus yang dari dulu tidak jauh berbeda. Walaupun begitu saya tidak mengingkari bahwa saya tumbuh dari kampus ini.

Tiga bulan setelah dibelikan komputer oleh Bapak, kira-kira bulan Agustus 2000, saya dan Tunggul berinisiatif untuk belajar GNU/Linux bersama, distro yang kami pakai adalah Red Hat 6.2, distro yang cukup “mewah” kala itu, karena sudah memiliki antarmuka grafis instalasi dan utilitas yang memudahkan pengguna. Tujuan kami tidak lebih dari sekedar ‘ingin menjadi hacker‘, karena kami sering membaca dokumentasi bahwa “untuk menjadi seorang hacker kita harus mengenal/menggunakan Unix/Linux” dan ini benar adanya.

Saya hampir sering main ke rumah Tunggul, karena memang kondisi di rumahnya lebih nyaman untuk belajar dan diskusi daripada rumah saya. Budaya berbagi ini terjadi sampai dengan hari ini, setiap kami bertemu pertanyaan “ada mainan baru?” sering muncul. Semalam Tunggul menunjukkan foto-foto “barang-barang bekas” yang dulu merupakan mainan kami yaitu CD-CD GNU/Linux, dokumentasi, disket-disket Linux kecil seperti hal91 atau disket boot untuk melakukan instalasi Linux dan rescue jika sesuatu terjadi pada Linux kita. Menarik ketika melihat kondisi sekarang, disket sudah jarang digunakan. Hampir semua orang menggunakan CD, DVD, USB disk, atau teknologi penyimpan yang lebih canggih.

CD-CD Tunggul Disket-Disket Tunggul

(gambar-gambar ini di-hot-link ke tunggul@flickr)

Bersambung…